Make your own free website on Tripod.com

Tempo, NO.18/XXVII/1 - 8 Feb 1999

Kerusuhan di Ambon

Faktor Cendana di Balik 'Perang' Ambon?

Ratusan provokator dituding sebagai biang kerusuhan Ambon. Selain buntut peristiwa Ketapang, adakah faktor Soeharto juga berperan?


Penglihatan "Kiai Ciganjur" memang rada terganggu, tapi radar penciuman "intelijen"-nya menjangkau Ambon. Kiai yang dimaksud adalah Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yang tinggal di Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan. Kiai nyentrik itu Selasa pekan lalu datang ke rumah mantan presiden Soeharto di Jalan Cendana. Selain berlebaran, ia menyampaikan pesan agar mantan orang nomor satu di Indonesia itu mempengaruhi anak buahnya. "Agar tidak menimbulkan hal-hal yang macem-macem kayak di Ambon," kata Gus Dur--begitu nama populernya--kepada wartawan seusai bertemu dengan Soeharto.

Yang menarik, pesan itu, seperti kata Gus Dur, "titipan" Panglima ABRI Jenderal (TNI) Wiranto. Dan "macem-macem" yang dimaksudkannya adalah neraka kerusuhan berbau suku dan agama yang "meluluh-lantakkan" Kota Ambon pada hari pertama Lebaran. Amuk massa itu sampai pekan lalu menewaskan 65 orang--tapi ada yang yakin jauh lebih besar dari angka resmi itu. Gubernur Maluku M. Saleh Latuconsina menaksir kerugian material akibat kerusuhan tersebut senilai Rp 500 miliar. Siapa biangnya? Menurut Kepala Dinas Penerangan Markas Besar Kepolisian RI Brigjen (Pol.) Togar M. Sianipar, pihak kepolisian sampai 29 Januari lalu telah menahan 41 tersangka dan memeriksa 105 orang. Tapi, untuk mengetahui hasil pemeriksaan dan menyimpulkan siapa di balik mereka, masih perlu waktu.

Soal kerusuhan itu, sayangnya, Gus Dur--yang banyak mengetahui orang yang terlibat melalui informannya di Ambon--tidak berani langsung tunjuk hidung. Ia hanya melempar isyarat berbalut teka-teki dengan mengatakan, mereka "orang yang serem-serem" atau "orangnya tak jauh dari rumah saya di Ciganjur sini." Dan bila orang sekaliber Panglima ABRI atau Pangab sampai perlu melakukan "cara khusus" untuk menyampaikan pesannya ke mantan RI-1, tak mengherankan bila timbul kesan bahwa mereka yang disebut Gus Dur itu bukanlah kelompok sembarangan.

Pernyataan Gus Dur tentang "orang yang dekat rumahnya" itu menerbitkan dugaan bahwa orang yang dimaksud adalah Yorrys Raweyai, tokoh organisasi Pemuda Pancasila yang memang tetangganya. Disambar tudingan miring itu, Yorrys--disertai Bambang Trihatmodjo, anak Pak Harto, yang juga bos kelompok bisnis Bimantara--mendatangi rumah Gus Dur. Keduanya menyinggung maksud dari kalimat "orangnya tak jauh dari rumah saya di Ciganjur sini" itu. Dengan enteng Gus Dur balik bertanya, "Apakah Anda benar-benar terlibat?" Yorrys menjawab, "Tidak." Lalu Gus Dur menutup sepenggal "adegan hangat" itu dengan komentar bernada ngeper. "Kalau tidak, ya enggak apa-apa kan?" kata Gus Dur. Itulah sekelumit dialog mereka--setidaknya seperti yang diceritakan Rozy Munir, salah seorang Ketua PBNU, kepada Agus S. Riyanto dari TEMPO.

Tampaknya, Gus Dur memang tidak menggenggam bukti-bukti tuduhan di tangan. Itu pula sebabnya, ketika tim reserse Mabes Polri mendatangi Gus Dur untuk mengklarifikasi pernyataannya, mereka pulang hanya mengantongi informasi awal, bukan barang bukti. "Keterangan Gus Dur hanyalah petunjuk," kata Letjen (Polisi) Roesmanhadi, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, kepada sejumlah wartawan, Rabu pekan lalu. Tapi bukankah ketiadaan bukti bukan bukti dari kebenaran?

Soal barang bukti itu, biarlah aparat yang mencarinya. Yang jelas, ada beberapa indikasi bahwa sebagian sinyalemen Gus Dur tak sepenuhnya salah. Panglima Daerah Militer (Pangdam) VII/Wirabuana Mayor Jenderal Suadi Marasabessy, yang berbasis di ibu kota Maluku itu, kepada pers pernah menyatakan bahwa aktor perusuh yang melakukan aksi di Ambon adalah preman dari Jakarta. Jumlahnya, menurut sumber lain, 165 orang. Lalu sumber-sumber yang dihubungi TEMPO memperkuat indikasi keberadaan "orang yang serem-serem"--seperti istilah Gus Dur itu.

Seorang perwira menengah di sebuah kesatuan militer yang intensif memantau "para pengacau" ini memberikan tips info kepada TEMPO. Begini. Sekitar Desember lalu, sebulan sebelum meletus geger Ambon, serombongan preman asal Ibu Kota datang menumpang kapal laut. Mereka lalu menganalisis, juga membikin peta kerusuhan yang akan diledakkan. Mereka menyimpulkan, kerusuhan bisa dikobarkan di sejumlah titik, di antaranya perkelahian antarkampung yang merupakan hal biasa di sana. Walau agama agak susah dimasukkan, budaya pela gandong sudah melemah di kota. Ini disulut kebencian terhadap para pendatang asal Bugis, Buton, dan lainnya. Tekanan psikologis penduduk Ambon terhadap peristiwa Ketapang dan Pam Swakarsa dulu--korbannya ada yang orang Ambon--ikut mendukung.

Masih ada satu titik rawan: kekecewaan yang meluas terhadap Gubernur Saleh Latuconsina. Ia belakangan memecat 35 pejabat setempat. Konon, ada faktor "agama" di balik tindakan Pak Gub. Tapi sumber TEMPO menepisnya. Di antara korban terdapat Paul Patti, mantan Bupati Maluku Tenggara yang muslim dan berkali-kali naik haji. Seabrek alasan penting ini lalu dijadikan modal penting untuk menyulut huru-hara. Faktor gerakan Republik Maluku Selatan (RMS)? Meski benderanya terserak di mana-mana, peran mereka--di mata sumber TEMPO ini--masih lemah. Spekulasi menyebut tindakan sebar bendera merupakan ulah tentara.

Orang serem-serem tadi menewaskan seorang tentara dalam kerusuhan di daerah Benteng di Kota Ambon. Ceritanya, sejumlah orang yang dipimpin oleh preman berdarah Ambon yang bekerja di Jakarta itu menculik seorang tentara pada Sabtu, 23 Januari. Tak jelas caranya, tapi mayat tentara itu kemudian ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan sempat dibawa ke Rumah Sakit Tentara di Kota Ambon. Siapa preman yang dimaksud? Sumber TEMPO menyebut sebuah nama yang sering bercokol di arena balap Sentul di Bogor. Ia seorang petugas keamanan yang dipercaya Tommy Soeharto, bos sirkuit itu.

Kelompok preman itu sempat menyandera tiga tentara. Namun mereka kemudian dilepaskan. Langkah itu diduga berhubungan dengan diperiksanya "atasan" mereka oleh Badan Intelijen ABRI (BIA). Menurut Yusuf Rahimi, tokoh masyarakat muslim Ambon, mengutip sumber dari militer, orang yang disebut "atasan" itu tak lain Dicky Wattimena, mantan Wali Kota Ambon dan mantan ajudan Soeharto, yang tengah diperiksa oleh BIA. Bahkan Yusuf menuduh bahwa Dicky--yang disingkirkan Gubernur Latuconsina--terlibat dalam kerusuhan.

Dicky diperiksa oleh BIA, menurut Yusuf, karena pada hari pertama kerusuhan dia diketahui berkeliling Kota Ambon mengendarai mobil. Ketika ia ditangkap, ceceran-ceceran darah ditemukan di dalam mobilnya. Tapi tentu soal benar-tidaknya dugaan itu masih harus dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan. Sayangnya, ketika wartawan TEMPO mencoba menghubungi Dicky lewat telepon interlokal, lelaki berusia 60 tahun itu sedang tidur. "Dia tidak mau menjawab. Kalau butuh keterangan, tanya saja komandan polisi militer," kata wanita penerima telepon yang mengaku sebagai istri Dicky. Komandan Polisi Militer VIII-3 Ambon, Mayor CPM Djuhendi, anehnya, membantah berita itu. Isu Dicky diperiksa oleh BIA itu isapan jempol belaka. "Berita itu tidak benar," kata Djuhendi kepada TEMPO.

Walhasil, dari laporan yang ada, seperti preman Sentul, Dicky, dan juga Kolonel CPM (Purnawirawan) Rukmana, yang disebut-sebut intelijen sebagai pelindung para preman yang bikin ulah di Ketapang tempo hari, benang merah menuju sang dalang belum bisa diloloskan. Seperti bau bangkai yang menyengat, ia bisa dirasakan tapi sulit dipegang. Maka, untuk mengungkap tuntas "para provokator" yang diduga mengetahui betul peta konflik lokal, entah yang berlatar suku, agama, atau kelompok kepentingan, aparat militer semestinya bekerja all out. Tidak cukup hanya dengan janji, "akan segera diusut tuntas", seperti yang selama ini terdengar. Bosan.